Sabtu, 14 April 2012

Proposal Ilmiah


PROPOSAL PENELITIAN
Nama                           : Achmad Fachrurrozi Chomsa
Npm                            : 151 09 333
Jurusan                        : Sistem Informasi
Fakultas                       : Ilmu Komputer
Judul                           : Pembelajaran Berbasis Komputer

1.      Latar belakang
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik agar dapat berperan aktif dan positif dalam hidupnya sekarang dan yang akan datang (Tirtarahardja;  2000). Bangsa yang maju selalu diawali dengan kesuksesan pendidikan, sebab lembaga pendidikan sebagai tempat mencetak sumber daya manusia berkualitas dan menjadi motor kemajuan dan kemakmuran bangsa. Ujung tombak program pendidikan dan salah satu faktor yang menentukan berhasil tidaknya kegiatan pembelajaran dalam dunia pendidikan adalah guru.
Rendahnya mutu pendidikan di Indonesia tidak terlepas dari rendahnya kualitas pembelajaran yang dilakukan guru dalam mentransfer pengetahuan kepada siswanya dikelas. Rendahnya daya kreasi dan inovasi merupakan problematika para guru dalam menciptakan sebuah media dan gaya pembelajaran yang atraktif dan menyenangkan. Terobosan dan ide-ide baru sangat dibutuhkan untuk meningkatkan daya nalar dan motivasi belajar siswa. (Dimyati, 2002)
Pemberlakuan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), menuntut siswa untuk memiliki kompetensi khusus dalam semua mata pelajaran setelah proses pembelajaran. Kompetensi merupakan kemampuan berpikir, bertindak, dan bersikap secara konsisten sebagai perwujudan dari pengetahuan, keterampilan, dan nilai. (Depdiknas, 2004:6).
Ditemukan beberapa kelemahan yang mempengaruhi hasil belajar siswa yaitu siswa cenderung ramai pada saat pembelajaran berlangsung sehingga konsentrasi siswa tidak terfokus, siswa banyak melamun bahkan mengantuk, siswa kurang tertarik dengan cara guru menyampaikan materi (metode ceramah), tidak ada siswa yang mau bertanya, tidak mampu menjawab dengan sempurna pertanyaan dari guru, siswa yang aktif akan semakin aktif begitu sebaliknya siswa yang pasif akan semakin pasif.
 Kelemahan-kelemahan diatas merupakan masalah dan perlu adanya strategi pembelajaran dikelas agar permasalahan tersebut dapat dipecahkan. Agar peserta didik belajar secara aktif dan memperoleh hasil prestasi yang maksimal, guru perlu menciptakan strategi yang tepat guna, sedemikian rupa, sehingga peserta didik mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar. ( Mudjiono, 2002). Salah satu hal untuk mengatasi kelemahan-kelemahan dalam proses pembelajaran yaitu guru dapat memanfaatkan media pembelajaran.
Motivasi yang seperti ini akan dapat tercipta kalau guru dapat meyakinkan peserta didik akan kegunaan materi pelajaran bagi kehidupan nyata peserta didik sehingga materi pelajaran selalu tampak menarik, tidak membosankan.  Supaya siswa dapat berpikir dan bertindak secara berdiskusi dan kreatif, maka dari itu siswa harus diberi kesempatan untuk mencoba kemampuannya dalam berbagai kegiatan. Guru berperan penting dalam memanfaatkan media dan sumber belajar dalam suatu pembelajaran. Pemanfaatan tersebut bermaksud meningkatkan kegiatan belajar, sehingga mutu hasil belajar semakin meningkat (Woolkfolk, 1984: 307-338) karena dengan menggunakan media tersebut dapat membuat siswa lebih tertarik dalam pembelajaran sehingga dapat menimbulkan motivasi siswa untuk belajar,  serta dapat mempercepat  pemahaman pesan secara lebih komprehensi dan dapat membuat siswa lebih konsentrasi.
Dalam proses belajar mengajar kehadiran media mempunyai arti penting. Karena dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Dalam pembelajaran teknologi informasi dan komunikasi yaitu suatu materi yang kebanyakan memiliki teori yang sulit untuk dimengerti. Akibatnya sikap dan pemahaman siswa tentang konsep teknologi informasi dan komunikasi yang diajarkan masih sangat kurang.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru teknologi informasi dan komunikasi menyatakan bahwa dengan pembelajaran yang selama ini dilakukan disekolah banyak siswa memiliki sikap menerima pelajaran yang rendah. Hasil ini dapat dilihat dari setiap kali guru menerangkan selama pembelajaran berlangsung siswa yang sikapnya baik hanya 45%. Sedangkan siswa yang lainnya hanya diam sebagai pendengar dan mencatat. Melalui hasil belajar ulangan harian siswa tentang teknologi informasi dan komunikasi diperoleh nilai hasil belajar untuk pelajaran teknologi informasi dan komunikasi yang memiliki nilai rata rata 6,25.
Peneliti ingin bermaksud memberikan sesuatu media pembelajaran dengan memanfaatkan media komputer agar siswa lebih terfokus pada pelajaran yang akan diajarkan, dan sikap siswa akan lebih baik sehingga materi pelajaran tersebut akan lebih lama diingat. Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti bermaksud mengadakan penelitian yang berjudul: “PEMBELAJARAN BERBASIS KOMPUTER”  


2.  Masalah dan Pembatasan Masalah
2.1 Masalah
1.      Bagaimana hasil belajar siswa setelah memanfaatkan media pembelajaran berbasis computer dalam pelajaran tekhnologi informasi dan komunikasi lebih efektif?
2.      Bagaimana sikap siswa setelah memanfaatkan media pembelajaran berbasis komputer dalam pelajaran teknologi informasi dan komunikasi akan lebih efektif?
2.2 Pembatasan Masalah
             Agar masalah ini tidak menyimpang dan untuk menghindari penafsiran yang berbeda dari pembaca, maka peneliti memberikan batasan-batasan masalah sebagai berikut: 
1.      Pemanfaatan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pelajaran teknologi informasi dan komunikasi dengan memanfaatkan media pembelajaran berbasis computer pada program power point yang dapat memberikan suatu materi yang membuat siswa tidak jenuh dalam menerima materi tersebut.
2.      Media pembelajaran berbasis komputer dalam penelitian ini adalah aplikasi multimedia berfungsi sebagai media pembelajaran yang memberikan fasilitas kepada siswa untuk mempelajari suatu materi. Yaitu berupa gambar yang dapat membuat peserta didik tidak jenuh dalam materi yang disampaikan.

3. Tujuan Penelitian
          Tujuan dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah memanfaatkan media pembelajaran berbasis komputer dalam pelajaran teknologi informasi dan komunikasi.
2. Untuk mengetahui sikap siswa setelah memanfaatkan media pembelajaran  berbasis komputer dalam pelajaran teknologi informasi dan komunikasi.

4. Manfaat Penelitian
          Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah :
1.      Bagi Guru:
a)      Dapat memacu daya kreatifitas dan inovasi guru dalam mengembangkan media pembelajaran sebagai sarana peningkatan kualitas pendidikan.
b)      Menambah khasanah media pembelajaran bagi para guru terutama media untuk mengkongkritkan beberapa konsep yang bersifat abstrak.
2.      Bagi Siswa:
a)      Dapat menambah motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran.
b)      Memperbaiki sikap siswa dalam pembelajaran.
3.      Bagi Sekolah:
a)      Menambah motivasi seluruh warga sekolah untuk selalu berkreasi dan inovasi sehingga bermuara pada peningkatan kinerja sekolah.
b)      Dengan peningkatan pemahaman konsep pada siswa akan meningkatkan prestasi belajar siswa dan sekolah pada umumnya.



5. Tinjauan Pustaka
5.1 Hakikat Pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi
            Belajar, perkembangan, dan pendidikan merupakan suatu peristiwa dan tindaakan sehari-hari. Dari sisi siswa sebagai pelaku belajar dan dari sisi guru sebagai pembelajar, dapat ditemukan adanya perbedaan dan persamaan. Hubungan guru dengan siswa adalah hubungan fungsional, dalam arti pelaku pendidik dan pelaku terdidik. Dari segi tujuan yang akan dicapai baik guru maupun siswa sama-sama mempunyai tujuan tersendiri. Meskipun demikian, tujuan guru dan siswa tersebut dapat dipersatukan dalam tujuan intruksional. Dari segi proses, belajar dan perkembangan merupakan proses internal siswa. (Winkell, 1991)
            Pendidikan adalah proses interaksi yang bertujuan. Interaksi terjadi antara guru dengan siswa, yang bertujuan meningkatkan perkembangan mental sehingga menjadi mandiri dan utuh. Secara umum dapat dikatakan bahwa pendidikan merupakan satuan tindakan yang memungkinkan terjadinya belajar dan perkembangan.
            Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah kegiatan yang menghasilkan perubahan tingkah laku baik secara mental maupun jasmani dengan cara ber interaksi aktif dengan lingkungannya.
            Proses pembelajaran ilmu teknologi informasi dan komunikasi merupakan proses interaksi yang melibatkan pendidik dan anak didik, di dalam pembelajaran, seorang guru dan seorang siswa diharapkan menyenangi pelajaran ini, karena menyenangi mata pelajaran merupakan dasar yang utama. Agar siswa tertarik pada pelajaran tersebut, maka seorang guru harus mempunyai cara tertentu untuk dapat mengubah mental dirinya sendiri serta mental anak didiknya. Karena itu kita perlu mengubah pola pikir anak didik dari hanya sebagai pendengar saja menjadi aktif melalui kegiatan-kegiatan.
            Untuk melaksanakan cara merubah mental anak didik dan pendidik adalah dengan menerapkan pendekatan keterampilan proses dalam proses belajar mengajar. Keterampilan proses berarti peranan guru bukan hanya sebagai pembicara tunggal melainkan menyiapkan situasi agar anak didik dapat aktif bertanya, mengamati, mengadakan tes serta menemukan fakta dan konsep sendiri. Salah satunya dalam suatu pembelajaran tersebut yang mempunyai ketidak jelasan bahan yang yang disampaikan dapat dengan menghadirkan media sebagai perantara. Media dapat mewakilkan apa yang kurang mampu guru ucapkan melalui kata-kata atau kalimat tertentu.bahkan keabstrakan bahan dapat dikonkretkan dengan kehadiran media. Dengan demikian, anak didik lebih mudah mencerna bahan daripada tanpa bantuan media.
5.2    Peranan Media Pembelajara
             Media sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar adalah suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri karena dapat membantu tugas guru dalam menyampaikan pesan-pesan dari bahan pelajaran yang diberikan oleh guru kepada anak didik. Guru sadar bahwa tanpa bantuan media, maka bahan pelajaran sukar untuk dicerna dan dipahami oleh setiap anak didik, terutama bahan pelajaran yang rumit atau kompleks. Sebagai alat Bantu media mempunyai fungsi melicinkan jalan munuju tercapainya tujuan pengajaran, dengan bantuan media mempertinggi kegiatan belajar anak didik dalam tenggang waktu yang cukup lama. Itu berarti kegiatan belajar anak didik dengan bantuan media akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih baik daripada tanpa bantuan media.
            Untuk memilih media pembelajaran yang tepat guru harus memahami bagaimana sasaran siswa dan sifat materi ajar.  Karena tidak ada satu media yang cocok untuk semua bidang materi ajar maka guru harus selalu belajar mengikuti kemajuan ilmu dan teknologi yang dapat membantu guru dalam mempersiapkan pembelajaran serta dapat menggunakan secara tepat, sehingga siswa tertantang belajar dengan berfikir kreatif. Dilihat dari segi perkembangan teknologi menurut Seels dan Glasgow dalam (Azhar Arsyad, 2006) media dikelompokkan menjadi, media tradisional dan media teknologi mutakhir. Media teknologi mutakhir meliputi : media berbasis telekomunikasi dan media berbasis mikroprosesor (Computer-assisted intrugtion, Permainan computer, Sistem tutor intelijen, Interaktif, Hypermedia, Compact).
             Pemanfaatan komputer untuk media pendidikan  sering dinamakan pembelajaran dengan bantuan computer (CAI), atau Computer Assisted Learning (CAL). Yang dimaksud pembelajaran multi media elektronik berbasis teknologi adalah dengan menggunakan program Power Point. Media pembelajaran presentasi power point ini bukan satu-satunya tetapi divariasikan dengan media lain yang relevan dan menarik.
             Program Microsoft Power Point merupakan program aplikasi untuk presentasi pembelajaran, sehingga membuat tampilan di layar proyektor silih berganti. Setiap tampilan disebut slide yang dapat dimasukkan gambar maupun suara. Langkah-langkah persiapan media ini dimulai dengan menjalankan program power point, membuat slide presentasi, memasukkan animasi yang sesuai dengan informasi yang ditampilkan, dapat ditambah dengan sound from clip organizer  sehingga tampilan slide sangat menarik bagi siswa.

5.3. Teknologi Informasi dan Komunikasi
            Tujuan Pembelajaran umum Pada Pokok Bahasan Teknologi Informasi dan Komunikasi
Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu.

            Pada materi yang mempunyai sifat yang abstrak, diperlukan suatu media pengajaran agar dasar-dasar yang konkret dari konsep yang abstrak dapat mengurangi kepemahaman yang bersifat verbalisme. Misalnya, untuk menjelaskan bagaimana pemanfaatan tekhnologi dalam dunia pendidikan. Dimana materi seperti ini tidak dapat menggunakan media yang berbentuk nyata seperti alat-alat laboratorium, namun media yang dipergunakan yakni suatu media berbasis komputer pada program power point.
Tujuan pembelajaran umum atau tujuan pembelajaran setiap konsep merupakan kemampuan yang harus dicapai peserta didik setelah mempelajari suatu konsep. Adapun tujuan pembelajaran umum pada konsep tekhnologi dan informasi yaitu siswa mampu menjelaskan karakteristik dan aplikasi pada komputer.

6. Prosedur Penelitian
6.1 Variabel Penelitian
            Arikunto ( 2006 : 118 ) “ Variabel adalah obyek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian dalam suatu penelitian ’’. Berdasarkan defenisi tersebut yang menjadi variabel penelitian ini adalah pemanfaatan media pembelajaran berbasis komputer dalam program power point sebagai upaya peningkatan pembelajaran.
6.2 Defenisi Operasional Varibel
     Defenisi operasional variabel dalam penelitian ini adalah:
1.  Pemanfaatan komputer untuk media pendidikan  sering dinamakan pembelajaran dengan bantuan computer (CAI), atau Computer Assisted Learning (CAL). Yang dimaksud pembelajaran multi media elektronik berbasis teknologi adalah dengan menggunakan program Power Point. Media pembelajaran presentasi power point ini bukan satu-satunya tetapi divariasikan dengan media lain yang relevan dan menarik.
2.   Peningkatan pemahaman dalam penelitian ini adalah hasil yang didapatkan melalui sikap siswa dalam memahami materi. Tes ini diberi pada akhir kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan media pembelajaran berbasis komputer sebagai upaya pemahaman konsep tekhnologi dan informasi komunikasi. Tes tersebut diberikan untuk mengukur dan melihat kecakapan siswa terhadap materi yang sudah diberikan. Setelah tes diberikan, kemudian data yang didapat dari tes tersebut diolah dengan teknik penskoran sehingga mendapatkan nilai. Nilai yang digunakan untuk melihat tingkat ketercapaian siswa memahami konsep tekhnologi dan informasi komunikasi.
6.3  Subjek Penelitian
            Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII IPA MAN dengan jumlah 35 siswa. Yang terdiri 13 siswa laki-laki dan 22 siswa perempuan.
6.4 Metode Penelitian
            Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitiannya (Arikunto,2006 : 160). Berdasarkan pendapat tersebut maka penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif.
 6. 5 Teknik Pengumpulan Data
     Dalam penelitian ini menggunakan dua teknik pengumpulan data yaitu :
6.5.1. Metode Observasi
Observasi ialah metode tata cara menganalisis dan mengadakan pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku manusia dengan melihat atau mengamati individu atau kelompok secara langsung ( Purwanto, 2009: 149). Observasi ini penulis lakukan untuk melihat bagaimana proses belajar mengajar dikelas dan memperoleh gambaran umum mengenai pemanfaatan media pembelajaran berbasis komputer dalam pelajaran tekhnologi informasi dan komunikasi di kelas XII IPA MAN. Dalam hal ini observasi yang penulis gunakan adalah observasi non-sistematis, yaitu observasi yang dilakukan oleh pengamat dengan tidak menggunakan instrumen pengamat.
6.5.2. Metode Data Tes
            Metode tes dilakukan sebanyak 3 kali berupa tes di akhir materi pembelajaran/ posttest
1)                  Rata-rata kelas
           
(Sudjana, 1989: 109)
Keterangan:
2)                  Ketuntasan belajar
            Untuk menghitungkan ketuntasan secara individu di gunakan rumus:
           
(Usman,1993: 138)
3)         Ketuntasan belajar secara klasikal
            Nilai postest diperoleh setelah dilakukan, kemudian dianalisis untuk mengetahui ketuntasan hasil belajar.
Ketuntasa secara klasikal dihitung dengan menggunakan rumus:
           
(Mulyasa, 2003: 102)
6.5.2. Metode Angket
            Sebagian besar penelitian umumnya menggunakan kuesioner  sebagai metode yang dipilih untuk mengumpulkan data.  Kuesioner atau angket memang mempunyai banyak kebaikan sebagai instrument pengumpul data.  Memang kuesioner baik, asal cara dan pengadaannya mengikuti persyaratan yang telah digariskan dalam penelitian. Adapun angket tersebut berisi pertanyaan-pertanyaan kepada siswa mengenai cara belajar yang efektif yaitu, aktifitas belajar dan minat siswa pada saat penyampaian materi selama menggunakan media komputer pada program power point. Dalam hal ini angket diberikan langsung kepada siswa di MAN sebagai uji coba angket penelitian. Dalam penelitian ini untuk menghitung validitas dan reabilitasnya penulis menyebarkan angket pada siswa kelas XII IPA MAN.
            Rumus yang digunakan untuk mencari nilai persen angket yang dicari dan diharapkan adalah sebagai berikut:
Keterangan:
Na = Nilai persen angket yang dicari dan diharapkan
N = Skor mentah hasil angket
SM = Skor maksimum hasil angket
100 = Bilangan tetap
6.6 Teknik Analisis Data
Data kualitatif dianalisis dengan menggunakan metode alur. Alur yang dilalui dalam analisis data kualitatif meliputi: reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Reduksi data adalah proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Kegiatan ini mulai dilakukan dalam setiap tindakan dilaksanakan. Penyajian data dilakukan dalam rangka pemahaman terhadap sekumpulan informasi yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan. Sedangkan penarikan kesimpulan dilakukan secara bertahap untuk memperoleh derajat kepercayaan yang tinggi.
6.6.1. Analisis Observasi
Instrumen yang dilakukan untuk mengukur minat terdiri dari empat aspek yaitu kehadiran dikelas, bertanya, partisipasi dalam kegiatan kelas dan ketepatan waktu mengumpulkan tugas. Rentang yang dipakai adalah 4 sampai 1, maka skor tertinggi 4 x 4 = 16 dan skor terendah 1 x 4 = 4. Selanjutnya hasil ini diinterpretasikan dengan tabel minat siswa atau kelas sebagai berikut.




Tabel 1
Kategori Minat Siswa
Nilai
Predikat
>12,8
9,7 – 12,8
6,4 – 9,6
< 6,4
Sangat Minat
Minat
Kurang Minat
Tidak Minat

Keterangan:
Skor batas bawah kategori sangat positif adalah 0,8 x 16 = 12,8 dan batas atasnya 16
Skor batas bawah kategori positif adalah 0,6 x 16 = 9,6 dan skor batas atasnya 12,8
Skor batas bawah kategori negatif adalah 0,4 x16 = 6,4dan batas atasnya 9,7
Skor batas bawah kategori sangat negatif adalah kurang dari 6,4                                      
(Tim Peneliti Program Pasca sarjana UNY, 2004: 22)
6.6.2. Analisis Data Tes
            Dibandingkan rata-rata kelas dengan syarat ketuntasan belajar di MAN siswa dinyatakan tuntas belajar mencapai nilai 6,5 dan satu kelas dinyatakan tuntas belajar bila dikelas tersebut terdapat 85% siswa yang mendapat nilai 6,5 atau lebih. Hasil perhitungan data diatas dikonversikan dengan tabel dibawah ini:
Tabel 2
Kriteria data tes hasil belajar siswa
Nilai
Predikat
86 – 100
71 – 85
56 – 70
41 – 55
< 40
Baik sekali
Baik
Cukup
Kurang
Sangat kurang

( Diknas, 2007: 34 )
6.6.3. Angket
            Adapun angket tersebut berisi pertanyaan-pertanyaan kepada siswa mengenai cara belajar yang efektif yaitu aktifitas belajar dan minat siswa pada saat penyampaian materi  selama menggunakan media komputer pada program power point. Pembelajaran yang dilakukan berpusat pada siswa, sehingga siswa berperan lebih aktif dalam mengembangkan cara-cara belajar mandiri, siswa berperan serta pada perencanaan, pelaksanaan dan penilaian proses belajar, pengalaman siswa lebih diutamakan dalam memutuskan titik tolak kegiatan.
            Siswa dipandang mencapai tuntas belajar afektif apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya 75% peserta didik terlibat aktif dalam mengembangkan cara-cara belajar mandiri, berperan serta pada perencanaan, pelaksanaan dan penilaian dalam proses belajar.




DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta.
Depdiknas. 2003. Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian Mata Pelajaran   Fisika. Jakarta : Depdiknas.
Dimyati, dan Mudjiono. 1994. Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta : Proyek Pembinaan dan Peningkatan Mutu Tenaga Kependidikan Depdikbud.
Hamalik, Oemar. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara.
Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara
Mulyasa, E. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep, Karakteristik dan Implementasi. Bandung : PT Remaja Rosda Karya
Sagala, Syaiful. 2008. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung : Alfabeta.
Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana.
Slameto, 2003. Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya, Jakarta : Rineka Cipta.
Sudjana, 2005. Metode Statistik. Jakarta : Tarsito. 

LEMBAR PENGESAHAN




Nama                           : Achmad Fachrurrozi Chomsa
Npm                            : 151 09 333
Jurusan                        : Sistem Informasi
Fakultas                      : Ilmu Komputer
Judul                           : Pembelajaran Berbasis Komputer







Menyetujui,
Ketua Jurusan Sistem Informasi




  



LEMBAR PERNYATAAN ORIGINALITAS


Saya yang bertanda tangan dibawah ini,
Nama                           : Achmad Fachrurrozi Chomsa
Npm                            : 151 09 333
Jurusan                        : Sistem Informasi
Fakultas                       : Ilmu Komputer
Judul                           : Pembelajaran Berbasis Komputer


Menyatakan bahwa tulisan ini adalah merupakan hasil karya saya sendiri dan dapat dipublikasikan sepenuhnya oleh Universitas Gunadarma. Segala kutipan dalam bentuk apa pun telah mengikuti kaidah, etika yang berlaku. Mengenai isi dan tulisan adalah merupakan tanggung jawab penulis, bukan Universitas Gunadarma.

Demikian pernyataan ini dibuat dengan sebenarnya dan dengan penuh kesadaran.

Depok,    Desember  2011



(Achmad Fachrurrozi Chomsa)

Rabu, 21 Maret 2012

Data Pribadi

Portofolio Riwayat Hidup 

Nama                                       : Achmad Fachrurrozi Chomsa
Jenis Kelamin                           : Laki - laki
Tempat Tanggal Lahir              : Muba 20 April 1990             
Kewarganegaraan                    : Indonesia
Agama                                     : Islam
Alamat                                     : Jalan Mutiara Rt. 025 Rw. 006 Kelurahan Kedondong Raye
                                                  Kecamatan Banyuasin III Kabupaten Banyuasin Provinsi
                                                  Sumatera Selatan 30753                                 
Telpon                                     : 08 98 98 62 505 / 08 53  68 78 02 25                                  
 e-mail                                     : Achmad.ozenk@gmail.com
                                                 / ozenk_funk@yahoo.com                                            

Pendidikan Formal 
1. SD Negeri 1 Pangkalan Balai
2. SMP Negeri 1 Pangkalan Balai
3. SMA Negeri 1 Pangkalan Balai
4. Universitas Gunadarma Jakarta


Seminar dan Workshop
- Seminar 3D MAX Gunadarma University
- Seminar Knowing The Last Update Technology of Your PC
- Workshop Overclocking Goes To Campus 

TUGAS BAHASA INDONESIA 2


1.     PENALARAN DEDUKTIF DAN INDUKTIF
            Penalaran merupakan suatu proses berpikir yang membuahkan pengetahuan. Agar pengetahuan yang dihasilkan melalui penalaran tersebut mempunyai dasar kebenaran maka proses berpikir itu harus dilakukan dengan suatu cara dan prosedur tertentu. Penarikan kesimpulan dari proses berpikir dianggap valid bila proses berpikir tersebut dilakukan menurut cara tertentu tersebut. Cara penarikan kesimpulan seperti ini disebut sebagai logika.

            Logika dapat didiefinisikan secara luas sebagai pengkajian untuk berpikir secara valid. Dalam penalaran ilmiah, sebagai proses untuk mencapai kebenaran ilmiah dikenal dua jenis cara penarikan kesimpulan yaitu logika induktif dan logika deduktif. Logika induktif berkaitan erat dengan penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata yang sifatnya khusus dan telah diakui kebenarannya secara ilmiah menjadi sebuah kesimpulan yang bersifat umum.

            Sedangkan logika deduktif adalah penarikan kesimpulan yang diperoleh dari kasus yang sifatnya umum menjadi sebuah kesmpulan yang ruang lingkupnya lebih bersifat individual atau khusus.

A.Penalaran Induktif
            Penalaran yang bertolak dari penyataan-pernyataan yang khusus dan menghasilkan simpulan yang umum.
Bentuk-bentuk Penalaran Induktif :

a) Generalisasi :
            Proses penalaran yang mengandalkan beberapa pernyataan yang mempunyai sifat tertentu untuk mendapatkan simpulan yang bersifat umum.
Contoh generalisasi :
v Jika dipanaskan, besi memuai.
Jika dipanaskan, tembaga memuai.
Jika dipanaskan, emas memuai.
Jika dipanaskan, platina memuai
Jadi, jika dipanaskan, logam memuai.

b) Analogi :
            Cara penarikan penalaran dengan membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama.
Contoh analogi :
Nina adalah lulusan Akademi Amanah.
Nina dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
Ali adalah lulusan Akademi Amanah.
Oleh Sebab itu, Ali dapat menjalankan tugasnya dengan baik.

c) Hubungan kausal :
            penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan.
Macam hubungan kausal :
1) Sebab- akibat.
            Hujan turun di daerah itu mengakibatkan timbulnya banjir.
2) Akibat – Sebab.
            Andika tidak lulus dalam ujian kali ini disebabkan dia tidak belajar dengan baik.
3) Akibat – Akibat.
            Ibu mendapatkan jalanan di depan rumah becek, sehingga ibu beranggapan jemuran di rumah basah. Induksi merupkan cara berpikir dengan menarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual.

            Penalaran induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataaann-pernyataan yang ruang lingkupnya khas dan terbatas dalam menysusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum.

B. Penalaran Deduktif
            Penalaran deduktif adalah kegiatan berpikir yang sebaliknya dari penalaran induktif.
Deduksi adalah cara berpikir di mana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus.

            Penarikkan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogisme. Silogisme disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan.
Pernyataan yang mendukung silogisme ini disebut sebagai premis yang kemudian dibedakan menjadi
1) premsi mayor dan
2) premis minor.

            Kesimpulan merupakan pengetahuan yang didapat dari penalaran deduktif berdasarkan kedua premis tersbut. Penarikan kesimpulan secara deduktif dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Penarikan tidak langsung ditarik dari dua premis. Penarikan secara langsung ditarik dari satu premis.

            Dari contoh sebelumnya misalkan kita menyusun silogisme sebagai berikut.
v Semua mahluk hidup perlu makan untuk mempertahanka hidupnya (Premis mayor)
v Joko adalah seorang mahluk hidup (Premis minor)
v Jadi, Joko perlu makan untuk mempertahakan hidupnya (Kesimpulan)

            Kesimpulan yang diambil bahwa Joko juga perlu makan untuk mempertahankan hidupnya adalah sah menurut penalaran deduktif, sebab kesimpulan ini ditarik secara logis dari dua premis yang mendukungnya.

            Dengan demikian maka ketepatan penarkkan kesimpulan tergantung dari tiga hal yaitu:
1) kebenaran premis mayor,
2) kebenaran premis minor, dan
3) keabsahan penarikan kesimpulan.
           
            Apabila salah satu dari ketiga unsur itu persyaratannya tidak terpenuhi dapat dipastikan kesimpulan yang ditariknya akan salah. Matematika adalah pengetahuan yang disusun secara deduktif.

C. Korelasi Penalaran Deduktif dan Induktif
            Kedua penalaran tersebut seolah-olah merupakan cara berpikir yang berbeda dan terpisah. Tetapi dalam prakteknya, antara berangkat dari teori atau berangkat dari fakta empirik merupakan lingkaran yang tidak terpisahkan.

            Kalau kita berbicara teori sebenarnya kita sedang mengandaikan fakta dan kalau berbicara fakta maka kita sedang mengandaikan teori. Dengan demikian, untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah kedua penalaran tersebut dapat digunakan secara bersama-sama dan saling mengisi, dan dilaksanakan dalam suatu ujud penelitian ilmiah yang menggunakan metode ilmiah dan taat pada hukum-hukum logika.

2. SILOGISME KATEGORIAL
           
Silogisme Kategorial : Silogisme yang terjadi dari tiga proposisi.
1. Premis umum : Premis Mayor (My)
2. Premis khusus remis Minor (Mn)
3. Premis simpulan : Premis Kesimpulan (K)

            Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term mayor, dan predikat simpulan disebut term minor.
Aturan umum dalam silogisme kategorial sebagai
berikut:
1. Silogisme harus terdiri atas tiga term yaitu : term mayor, term minor, term penengah.
2. Silogisme terdiri atas tiga proposisi yaitu premis mayor, premis minor, dan kesimpulan.
3. Dua premis yang negatif tidak dapat menghasilkan simpulan.
4. Bila salah satu premisnya negatif, simpulan pasti negatif.
5. Dari premis yang positif, akan dihasilkan simpulan yang positif.
6. Dari dua premis yang khusus tidak dapat ditarik satu simpulan.
7. Bila premisnya khusus, simpulan akan bersifat khusus. Dari premis mayor khusus dan premis minor negatif tidak dapat ditarik satu simpulan.
Contoh silogisme Kategorial:
My : Semua mahasiswa adalah lulusan SLTA
Mn : Badu adalah mahasiswa
K : Badu lulusan SLTA
My : Tidak ada manusia yang kekal
Mn : Socrates adalah manusia
K : Socrates tidak kekal
            ada dua cara untuk menarik kesimpulan dari suatu teks atau wacana yakni melalui penalaran deduksi dan penalaran induksi.
           
            Penalaran deduksi dilakukan terhadap data (pernyataan) umum untuk Ø kemudian ditarik kesimpulan yang khusus. Penalaran deduksi terbagi atas dua bagian yaitu silogisme dan entimen.
Silogisme adalah penalaran deduksi secara tidak langsung.

            Silogisme • memerlukan dua premis sebagai data. Premis pertama disebut premis umum, premis yang kedua disebut premis khusus. Dari kedua premis tersebut, kesimpulan itu dirumuskan. Penalaran deduksi yang kedua yaitu entimen.
Entimen adalah penalaran deduksi secara langsung.
Contoh:
Silogisme
PU: Binatang mamalia melahirkan anak dan tidak bertelur.
PK: Ikan paus binatang binatang mamalia.
K : Ikan paus melahirkan anak dan tidak bertelur.
Entimen

            Ikan paus melahirkan anak dan tidak bertelur karena termasuk binatang mamalia.
Penalaran induksi dilakukan terhadap peristiwa-peristiwa khusus, Ø untuk kemusian dirumuskan sebuah kesimpulan, yang mencakup semua peristiwa-peristiwa khusus itu. Yang termasuk ke dalam penalaran induksi yaitu generalisasi, analogi, dan hubungan kausal.
            Generalisasi adalah proses penalaran yang menggunakan beberapa • pernyataan yang mempunyai ciri-ciri tertentu untuk mendapatkan kesimpulan yang bersifat umum.
Analogi adalah cara bernalar dengan membandingkan dua hal yang • memiliki sifat sama. Cara ini didsarkan asumsi bahwa jika sudah ada persamaan dalam berbagai segi, maka akan ada persamaan pula dalam bidang lain.

            Hubungan kausal adalah cara penalaran yang diperoleh dari peristiwa-peristiwa yang memiliki pola hubungan sebab-akibat.
Contoh:
Generalisasi
Jika dipanaskan, besi memuai.
Jika dipanaskan, tembaga memuai.
Jika dipanaskan, emas memuai.
Jadi, jika dipanaskan, semua logam akan memuai.

Analogi
            Arief seorang alumni SMUN 1 Tegal dapat diterima kerja di perusahaan Pak Subur. Oleh sebab itu, Nani yang juga lulusan SMUN 1 Tegal pasti dapat pula diterima kerja di perusahaan pak Subur.

Hubungan Kausal
            Kemarin Badu tidak masuk kantor. Hari ini pun tidak. Pagi tadi istrinya pergi ke apotek membeli obat. Karena itu, pasti Badu sedang sakit.

3.SALAH  NALAR
            Salah nalar adalah kesalahan struktur atau proses formal penalaran dalam menurunkan kesimpulan sehingga kesimpulan tersebut menjadi tidak valid. Jadi berdasarkan pengertian tersebut, salah nalar bisa terjadi apabila pengambilan kesimpulan tidak didasarkan pada kaidah-kaidah penalaran yang valid. Terdapat beberapa bentuk salah nalar yang sering kita jumpai, yaitu: menegaskan konsekuen, menyangkal antiseden, pentaksaan, perampatan-lebih, parsialitas, pembuktian analogis, perancuan urutan kejadian dengan penyebaban, serta pengambilan konklusi pasangan.

(Sumber : Wikipedia)

Kamis, 15 Desember 2011

Tugas 2 B.Indonesia Soft Skill



Makalah Tentang

Mencari artikel yang sesuai dengan bidang kami




Penyusun :

Faris (10109204)
Suryana Saputra  (13109415)
Firman Fadly (13109353)
Alvin Alliyullah(11109529)
Faisal Reza(12109327)
Achmad Fachrurrozi(15109333)



Ini adalah Sebuah artikel  yang menurut saya sudah sangat baik dari segi Pembacaan dan bagian sintaksis. Memang dari segi penulisan dan pemilihan kata Koran Republika Memang sangat bisa di ancungi jempol..dapat kita lihat dari SIAK yang sangat tepat untuk Dijadikan sebuah singkatan.

Dan dapat kita analisa lagi dengan penjabaran dari berapa jumlah kabupaten/kota yang sudah dapat terhubung ke provinsi.Hal ini menegaskan bahwa sebenarnya redaktur memberikan data yang sangat mirip dengan kenyataan.Contoh kita temui dalam kata “Sementara pada tahun 2011kata dia,seluruh kabupaten/kota di Indonesia yang berjumlah 497 Kabupaten/ kotadapat terhubung ke pusat dan provinsi”.

Setelah itu Diakhir dari Koran tersebut dicantumkan redaktur  yang memuat isi dari wacana tersebut.Sehingga sang redaktur dapat mempertanggung jawabkan isi dari berita yang dimuat pada Koran Republika tersebut.

Referensi : Republika terbit 9 Agustus 2011.



Berikut beberapa alasan yang membuat kami bisa memberikan Opini seperti diatas,kami mengambil dari beberapa sumber tentang penulisan artikel yang baik.
Berikut:

1.      Sistematis.
Penjelasan dimulai dengan penjelasan sederhana disertai contoh-contoh ringan hingga terberat. Kalau perlu, tuliskan sedikit latar belakang dan sejarah peristiwa akan menjawab alasan kenapa pembaca harus terus mengikuti tutorial Anda.
2.       Mendapatkan Studi Kasus.
Memang tidak mudah mencari studi kasus.
3.       Menemukan Kasus Variatif.
Kecanggihan teknologi otomatis diikuti pula oleh semakin beraneka ragamnya masalah yang muncul. Sesekali Anda perlu mengembangkan wawasan supaya cara pemecahan masalah juga berkembang. Misalnya, kenapa sebuah plugin jadi error dipakai pada themes Thesis dengan platform WordPress 3.0. Atau bagi yang jualan VCC, Anda mesti berpikir bagaimana problem solving menjawab pertanyaan yang sama pada orang yang berbeda yang setiap hari mengganggu hidup Anda.
4.       Bahasa Populer.
Agar tulisan tutorial anda lebih akrab dengan pembaca, gunakan bahasa yang sederhana dan rileks. Memakai bahasa resmi yang sesuai EYD memang bagus menurut guru bahasa. Tapi ini dapat Anda abaikan pada pembuatan artikel tutorial. Bahasa percakapan sehari-hari yang ‘gue banget’ bisa jadi solusi terbaik dalam transfer pemikiran.